Skip to main content

Aku (bukan) guru yang galak

Nggak kerasa sudah 5 tahun aku menjadi guru,  hal yang nggak pernah aku bayangkan sama sekali. Semuanya terjadi begitu cepat,  banyak hal yang aku dapat. Meskipun aku ini guru yang penuh dengan peraturan,  aku menikmatinya. Pasti hal ini akan menjadi ciri khas tersendiri di mata anak-anak. Mungkin mereka membenciku, tapi kurasa mereka nggak akan melupakan aku. 

Suatu hari ketika mereka sudah besar, kemudian mengadakan reunian, lalu menceritakan masa sekolahnya,  salah satu dari mereka barangkali ada yang akan bilang "masih inget miss melinda gak? Yang kalo kita gak pake bahasa di kls terus disuruh berdiri di tangga BRI pas istirahat dan ngulang-ngulangin kata2 itu ke bahasa arab dan inggris, si A kan yang jadi langganan nya haha" lalu tawa mereka pecah atau ada yang mengingat "oia, miss melinda juga selalu ingat kalau kita belum menjalankan hukuman yah haha" lalu ada yang menambahkan lagi "kalo belum hapalan mutholaah nanti diberdirikan di atas panggung depan kantor ya? Terus kalo tidur di kelas dan gak bawa kamus diberdiriin di atas kursi si B dan si C ni yang sering jadi korban haha"  lalu mereka guling-guling. "Bagaimana ya kabar miss melinda,  aku kangen" (semoga ada yanh bilang seperti ini juga wkwk)

Meskipun kelak yang akan diingat mereka adalah hukumannya,  aku tetap bersyukur. Setidaknya aku pernah menjadi guru yang mengajarkan mereka tentang tanggung jawab dan berjuang. mereka sering mengeluh karena hapalan yang panjang, aku gak peduli, ku bilang mereka pasti mampu. Ketika ku sampaikan bahwa akan ada hukuman untuk yang gak hapalan minggu depan, akhirnya mereka berbondong-bondong dan rebutan hapalan juga. Meski aku tau beberapa dari mereka sampai menangis (itulah kenikmatan belajar yang sebenarnya, bersungguh-sungguh). Dulu pun aku begitu, ketika guru lebih tegas maka aku akan lebih berjuang, ketika guru itu tidak menanyakan tentang hapalan, aku cenderung menunda-nunda. Pengalaman itulah yang membuatku menjadi guru yang tegas.

Tidak hanya itu,  banyak sekali pelajaran hidup yang aku dapatkan. Tentang menghadapi walisantri,  ternyata pendidikan bukanlah segalanya. Tidak jarang orang tua yang berpendidikan tinggi lalu tidak memahami peraturan,  inginnya menang sendiri. Tidak jarang juga orang tua yang sederhana lalu memahami peraturan dengan bijak. Bahkan aku pernah di "tes" oleh seorang wali santri tentang peraturan. bapak ini mengotot sekali ingin mengajak anaknya belanja keluar sampai malam hari. Ku bilang peraturan disini hanya mengizinkan keluar sampai pukul 5 sore. Semakin ku jelaskan alasan dan mudorot nya,  semakin kasar bahasanya. Sampai akhirnya beliau bilang "saya salut dengan usth,  peraturan tetaplah peraturan,  usth tetap harus teguh pada peraturan meskipun akan berjumpa dengan orang-orang seperti saya kelak." aku menghela napas panjang setelah itu,  padahal jari tangan ku sudah mulai gemetaran. Ah banyak sekali warna-warni di kehidupan ku selama mengabdi. Cerita ini salah satunya,  masih banyak lagi yang lain. Nanti ku ceritakan ya...

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

04 Mei 2013

Jarum jam terus berputar. Bola mataku tak hentinya melirik kearah jam dinding dan hp yang kupegang. Aku menunggu sms dari mamah. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak “My Father”. Percakapan panjang di mulai. Lagi-lagi bapak menyinggung masalah beasiswa itu. “bapak udah bantu doa, kamu tinggal usaha ya nak” Bibir ku kelu, aku benar-benar mengabaikan beasiswa itu, bahkan belajarpun tidak. Aku sibuk mengetik dan mengetik. Pagi tadi aku menyampaikan keinginanku pada mamah dalam sebuah pesan singkat, yang setelah kubaca lagi, lebih terlihat seperti memaksa dari pada memohon :-(. Aku ingin membeli laptop atau notebook, tapi uangku belum mencukupi. Sedangkan aku sangat membutuhkannya bulan ini, setelah diberitahu ust falah bahwa dateline bukunya diusahakan akhir buan mei ini. maka aku menyampaikan hal itu pada mamah, awalnya mamah sedikit tidak setuju dengan permintaan ku yang mendadak itu, kata mamah lebih baik uangnya untuk daftar kuliah dulu. tapi aku keras kepala, aku meyakini ma...

SABAR

Bukan kah sabar adalah kata yang paling sering kau ucap? Tapi aku tidak mengerti "sabar" yang kau maksud di pesan terakhir itu. entah "sabar" untuk menunggu, atau "sabar" akan kenyataan yang ada, entahlah... Pastinya kau adalah orang yang paling handal dalam menegakan diri! Terimakasih karena telah datang, pergi, dan kembali. Seterusnya terserah kau saja... Karena aku tengah menyibukkan diri!

Melinda wanita Perkasa banget pake Zzzz (-.-)9 *pamer otot*

Random banget mau nulis apa, kebetulan bulan –bulan ini banyak kegiatan. Sekarang bukan lagi menjalani hari tapi berlari mengejar waktu yang terasa begitu cepat. Sudah mulai PSB lagi, mulai cari beasiwa dan kuliah, berkutat dengan tulisan.   April sukses membuatku menangis berulang kali. Mulai dari nyasar cari univ persada, sendirian di Jakarta timur dengan tas besar yang di tenteng, maklum baru pulang dari Palembang. Seharian itu hati serasa dikuasai sama setan, menggerutu tak karuan. Belum lagi beberapa berkas tertinggal di pesantren, lengkap sudah penderitaan ku. Sampai pondok dihadapi dengan masalah anak-anak, mulai mengejar pelajaran yang beberapa hari aku tinggalkan. Besoknya pergi ke UT, masih sama, tidak tau jalan. Rasanya mau berteriak dan menangis. Tapi aku selalu yakin dengan mengatakan   (Melinda wanita perkasa banget pake Zzz *sambil pamer otot) jadi jalan aja walau gak tau jalan, bertanya kesekitar pedagang atau tukang ojeg yang ada. Miris, seorang gadis menyusur...