Skip to main content

Pesan untuk laki-laki

Aku suka sekali membaca novel karya Andrea Hirata,  meskipun di dalamnya selalu bercerita tentang tokoh-tokoh yang udik dan lugu. Tapi pemilihan kata dan cara pak cik bergurau sangatlah smart. Di postingan kali ini aku gak mau membahas karya pak cik,  nanti saja kalau sudah selesai membaca Sirkus Pohon.  Jadi di setiap novel pak cik,  ia selalu menceritakan kisah cinta yang rumit dan amat pedih,  terkesan berlebihan namun realistis dan kebanyakan tokoh yang menderita itu adalah laki-laki. Seakan perempuan adalah racun atau bisa yang mematikan bagi hidup tokoh-tokoh tersebut. Tapi versi postingan ku kebalikan dari cerita di novel-novel pak cik, penderitaan itu berawal dari tingkah laki-laki.

Selama jadi wali kelas di setiap awal pengenalan,  aku selalu memanggil satu persatu anak didik ku. Menanyakan banyak hal, mulai dari background keluarga,  pekerjaan orang tua dan uang jajan perbulan. Sebelumnya aku selalu menjelaskan kenapa mereka harus terbuka pada ku,  karena aku adalah orangtua mereka di pondok. Aku harus tau detail karakter mereka, bahkan sampai uang jajan. Karena tak sedikit anak yang jajan nya banyak namun belum bayar spp,  hal itu bisa menjadi pertanyaan besarkan? Lalu banyak pula anak yang berperilaku selalu ingin "diperhatikan" dan kebanyakan mereka berasal dari latar belakang keluarga yang kurang perhatian.

Ternyata cara tersebut manjur,  mereka senang bercerita bahkan hingga menangis. Bayangkan anak usia 14/15 tahun seperti mereka ada yang pernah mendengar dan melihat pertengkaran kedua orang tuanya,  ku kira itu hanya ada di sinetron. Banyak sekali versi cerita dan masalah yang ku tampung dan kebanyakan yang memicu hal tersebut adalah "laki-laki". Si ayah yang pergi dan tidak bertanggung jawab,  si ayah yang menikah sirih tanpa memberi tahu keluarganya,  si ayah yang suka memukul dan meludahi istrinya,  hingga si ayah yang mengenalkan istri dari pernikahan sirihnya ke sang anak ketika mengunjungi pesantren. "Teh,  ini temen bapak" anak usia 14/15 tahun mana yang tidak mengerti kata "teman" untuk laki2 yang sudah berkeluarga. Dia hanya bisa menangis memendam semua sendirian,  sampai akhirnya di sesi tanya jawab itu ia menumpahkan semuanya padaku. 

Kebanyakan ibu dari korban  ayah-ayah tidak bertanggung jawab itu memilih sendiri dan tidak menikah lagi,  betapa perempuan bisa lebih kuat dari laki-laki. Bahkan mereka yang ditinggal mati suaminya bisa menghidupi anaknya selama bertahun-tahun tanpa ada keinginan menikah lagi. tapi laki-laki?  Bukan kah di fikirannya penuh nafsu birahi? Yang sebulan di tinggal mati istrinya lalu bisa menikah lagi, tanpa memikirkan perasaan si anak yang masih berduka. Sedangkan perempuan penuh dengan kesetiaan dan kemandirian.

Hai kau laki-laki,  siapapun yang membaca blog ini. Berkomitmenlah ketika kelak kau menikah!!  Ingatlah,  semarah apapun istri, ia masih bisa dikuasai. Semarah apapun istri, hakikatnya ia hanya ingin di kasihi. Perlakukan lah ia dengan baik, sebagaimana kata mutiara yang diambil dari sabda nabi "Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, bukan dari kepalanya untuk menjadi atasan, bukan pula dari kaki untuk dijadikan alas, melainkan dari sisinya (tulang rusuk) untuk menjadi mitra sederajat, dekat pada lengannya tuk dilindungi. dan dekat dihatinya tuk dicintai". Janganlah kau meninggi kan suara mu ketika marah. karena jika kau marah, perempuan mana kah yang bisa meredam amarah mu? kecuali pukulan yang akan mendarat di sekujur tubuhnya. Jika marah, pergilah!! redamkan amarah mu sendiri. Karena pada hakikatnya perempuan akan rindu dan mencari mu untuk kembali. Begitulah hati perempuan, penuh dengan rasa iba, mudah memaafkan dan mengasihi. 

aku jadi berfikir, betapa menikah itu harus di fikir matang-matang. Bukan hanya sekedar mempersiapkan biaya untuk hajatan, bukan hanya menyatukan dua hati,  tapi juga menyatukan 2 keluarga dengan kebiasaan dan budaya yang berbeda. Menikah adalah memilih pasangan hidup sehidup-semati,  yang loyal dan mengerti,  yang bisa bertanggung jawab dan punya komitmen tinggi. Bukan kah tujuan menikah adalah untuk beribadah?  Bukan untuk memutus silaturahmi (read: cerai)?

Semoga kelak aku akan menemukan imam yang sholeh, yang bertanggung jawab dan berkomitmen tinggi. aamiin....

Comments

Popular posts from this blog

04 Mei 2013

Jarum jam terus berputar. Bola mataku tak hentinya melirik kearah jam dinding dan hp yang kupegang. Aku menunggu sms dari mamah. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak “My Father”. Percakapan panjang di mulai. Lagi-lagi bapak menyinggung masalah beasiswa itu. “bapak udah bantu doa, kamu tinggal usaha ya nak” Bibir ku kelu, aku benar-benar mengabaikan beasiswa itu, bahkan belajarpun tidak. Aku sibuk mengetik dan mengetik. Pagi tadi aku menyampaikan keinginanku pada mamah dalam sebuah pesan singkat, yang setelah kubaca lagi, lebih terlihat seperti memaksa dari pada memohon :-(. Aku ingin membeli laptop atau notebook, tapi uangku belum mencukupi. Sedangkan aku sangat membutuhkannya bulan ini, setelah diberitahu ust falah bahwa dateline bukunya diusahakan akhir buan mei ini. maka aku menyampaikan hal itu pada mamah, awalnya mamah sedikit tidak setuju dengan permintaan ku yang mendadak itu, kata mamah lebih baik uangnya untuk daftar kuliah dulu. tapi aku keras kepala, aku meyakini ma...

SABAR

Bukan kah sabar adalah kata yang paling sering kau ucap? Tapi aku tidak mengerti "sabar" yang kau maksud di pesan terakhir itu. entah "sabar" untuk menunggu, atau "sabar" akan kenyataan yang ada, entahlah... Pastinya kau adalah orang yang paling handal dalam menegakan diri! Terimakasih karena telah datang, pergi, dan kembali. Seterusnya terserah kau saja... Karena aku tengah menyibukkan diri!

Melinda wanita Perkasa banget pake Zzzz (-.-)9 *pamer otot*

Random banget mau nulis apa, kebetulan bulan –bulan ini banyak kegiatan. Sekarang bukan lagi menjalani hari tapi berlari mengejar waktu yang terasa begitu cepat. Sudah mulai PSB lagi, mulai cari beasiwa dan kuliah, berkutat dengan tulisan.   April sukses membuatku menangis berulang kali. Mulai dari nyasar cari univ persada, sendirian di Jakarta timur dengan tas besar yang di tenteng, maklum baru pulang dari Palembang. Seharian itu hati serasa dikuasai sama setan, menggerutu tak karuan. Belum lagi beberapa berkas tertinggal di pesantren, lengkap sudah penderitaan ku. Sampai pondok dihadapi dengan masalah anak-anak, mulai mengejar pelajaran yang beberapa hari aku tinggalkan. Besoknya pergi ke UT, masih sama, tidak tau jalan. Rasanya mau berteriak dan menangis. Tapi aku selalu yakin dengan mengatakan   (Melinda wanita perkasa banget pake Zzz *sambil pamer otot) jadi jalan aja walau gak tau jalan, bertanya kesekitar pedagang atau tukang ojeg yang ada. Miris, seorang gadis menyusur...