Skip to main content

04 Mei 2013

Jarum jam terus berputar. Bola mataku tak hentinya melirik kearah jam dinding dan hp yang kupegang. Aku menunggu sms dari mamah. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak “My Father”. Percakapan panjang di mulai. Lagi-lagi bapak menyinggung masalah beasiswa itu.

“bapak udah bantu doa, kamu tinggal usaha ya nak”

Bibir ku kelu, aku benar-benar mengabaikan beasiswa itu, bahkan belajarpun tidak. Aku sibuk mengetik dan mengetik. Pagi tadi aku menyampaikan keinginanku pada mamah dalam sebuah pesan singkat, yang setelah kubaca lagi, lebih terlihat seperti memaksa dari pada memohon :-(. Aku ingin membeli laptop atau notebook, tapi uangku belum mencukupi. Sedangkan aku sangat membutuhkannya bulan ini, setelah diberitahu ust falah bahwa dateline bukunya diusahakan akhir buan mei ini. maka aku menyampaikan hal itu pada mamah, awalnya mamah sedikit tidak setuju dengan permintaan ku yang mendadak itu, kata mamah lebih baik uangnya untuk daftar kuliah dulu. tapi aku keras kepala, aku meyakini mamah, bahwa dengan membeli laptop itu akan membantu ku dalam penulisan novel

“nanti Ramadhan aku ganti mah” kata ku dengan yakin

Setelah ku perkirakan, bulan Ramadhan nanti uangku baru mencukupi. Mamah yang mendengarnya terkekeh, aku terus meyakininya

“Enggak usah, itu untuk Hadiah ulang tahunmu” tawa mamah meledak

Beberapa hari lagi aku berusia 19, mamah mengingatnya. Bahkan sudah mempersiapkan hadiahnya. Aku beruntung memiliki ibu sepertinya. Hatinya selembut salju :-)

Mengingat percakapan ku dengan bapak, bapak terus menyemangatiku untuk belajar. Aku semakin merasa bersalah. Dulu bapak memang orang yang paling optimis yang pernah aku kenal, sudah beberapa tahun ini aku tak melihat matanya yang berbinar-binar, atau ucapannya yang meyakinkan. Ia hanya termenung dan sering mengatakan hal-hal yang membuatku harus menahan bendungan air mata.

Tapi tidak seperti kemarin, aku menemukan bapakku yang dulu. yang penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat. Aku merasa bodoh, mendapati diri ini yang tidak mempersiapkan apapun. Kata-kata bapak mencambuk perasaan ku. Aku memang anak yang payah.

“bapak mimpi kamu diterima beasiswa ke jepang” perkataannya membuatku semakin pilu.

Lalu aku mengalihkan pembicaraan itu dengan kesibukanku bulan-bulan ini. lagi-lagi bapak menyemangatiku menulis. Katanya ia ingin membaca novel ku lebih dulu. ia pun ingin membeli sebuah printer untuk mengeprint hasil novel ku. Aku tertawa kecil mendengarnya. Aku member tahunya bahwa sebentar lagi liburan panjang, 20 juli aku akan libur Ramadhan. Bapak malah mengatakan hal yang membuatku terdiam membisu

“nanti tanggal 27 mei ujiannya, kalau kamu lulus kamu langsung ke asrama bahasanya  untuk beberapa bulan dan terbang ke jepang.”

“jadi kamu gak sempat pulang ke rumah” tambahnya

Aku hanya terdiam, tidak bersuara cukup lama. hanya ada tawa pelan dari ujung telepon, aku mengontrol suara ku, agar tidak terdengar menangis. Hatiku terenyuh, dengan cepat aku menyudahi telepon yang ditutup dengan pesan bapak yang selalu kuingat.

“bapak bantu doa, kamu bantu Usaha”

Telepon mati, meninggalkan sebuah kalimat yang berputar-putar dikepalaku. Tersedot masuk ke dalam otakku dan menghantam keras perasaaan ku. Mataku berkaca, tapi tak ku biarkan air mata terjatuh.

Entahlah apa yang harus aku lakukan, ujian tinggal menghitung hari, begitu pula dateline tulisanku. Aku tidak menyeimbangi keduanya, hanya focus terhadap tulisan. Aku ingat kalimat ini “usaha tanpa doa, sombong. Doa tanpa usaha, percuma.” Kalau kita mau mencapai hasil yang maksimal ya harus berdoa dan usaha. Keduanya sangat membantu. Bukan hanya bapak yang berharap akan beasiswa itu, aku pun ingin meraihnya. Membahagiakan orang tuaku dan tidak membebaninya.

Ya Tuhan, aku bingung. aku takut membuat orang tuaku kecewa. Aku akan menulis dengan maksimal untuk membuktikan laptop yang ku beli benar-benar aku gunakan dengan baik. aku pun ingin membuktikan kepada bapak, doanya tidak akan sia-sia karena akan aku bantu dengan usaha. Amin T.T

Allah akan memberikan yang terbaik. siapkan hati yang kuat untuk menerima segala kekhendaknya :-)

Comments

Popular posts from this blog

It's okay

Postingan ini ditulis karena melihat kumpulan yang mungkin sengaja tidak mengundang saya.  Guess why? Because i am not that kind of a "nice person" menurut mereka. i guess sih gitu, correct me if i am wrong hahaha.  But lemme tell you something guys. Sebagai penegak peraturan di pondok,  sebagai pembimbing dan sebagai guru,  It's okay kalo ada anak-anak yang bilang aku galak, cerewet, dan gak asik (banyak peraturan). Because i know exactly that i am highly tempered,  i know that i get annoyed easly ketika ngeliat anak-anak yang nggak mentaati peraturan apalagi kalo berulang kali dilakuinnya. Aku bukan tipe orang yang bisa cuek-cuek aja kalo lihat ada hal salah ataupun "gak beres" di depan mata. Aku bukan tipe orang yang "bodo amat" cuma karena capek negor anak yang salah. I am not that kind of person. Meski hal demikian jadi bumerang dan ngebuat anak-anak "nggak nyaman" sama aku,  it's okay.  I through that moment since pengabdian pert...

Minggu, 23 September

Sedikit cerita tentang hari dimana bibirku terus membentuk simpul,  tersenyum sumringah. Sebelumnya, udo hanya bilang akan silaturahmi ke rumah dengan keluarganya. Kebetulan ia sudah tidak ditugaskan di Makassar dan sedang ada diklat di Bogor selama 3 minggu. Di pertengahan diklat, di minggu kedua,  udo dan keluarganya menyempatkan diri datang ke rumah ku (di Tangerang). Udo memang lah laki-laki yang sangat sigap. Aku tidak mempersiapkan banyak hal untuk hari itu,  seperti pakaian pada umumnya yang selalu menjadi perhatian gadis seumuranku ketika akan datang seorang laki-laki ke rumah dengan keluarganya. Aku hanya memilih baju yang sudah lama sekali tidak pernah aku pakai dan mencocokannya dengan kerudung yang ada, lalu ku poleskan sedikit pelembab dan bedak di wajah,  ku pikir ini hanya acara "silaturahmi keluarga". Kalau saja aku tahu hari itu adalah hari yang sangat sakral bagiku, akan ku kenakan pakaian terbaikkkk (melinda memang dodol -_-) Ternyata Alla...

BE PROACTIVE

Aku lagi di KRL nih habis pulang kuli-ah,  kebetulan dapat tempat duduk *nangis terharu* sepertinya asik kalo bisa berbagi cerita di kelas tadi. Oke,  aku coba share secara gamblang dan simple ya.  Well,  semester ini aku ada matkul academic speaking dan prof menugaskan tiap kelompok untuk mempresentasikan isi buku "the 7 habits of highly effective people" yang sangat populer itu. Kalo kalian jurusan bahasa inggris pasti pernah ditugasin untuk membacanya. Kalau dilihat dari ketebalan bukunya,  aku juga malassss sekali membukanya selain karena berbahasa inggris juga (parah banget kan buka aja malas -_-).  Tapi matkul ini jadi favorite aku banget,  pembahasan dari buku karya Dr. Stephen R. Covey benar-benar memacu dan memotivasi ku untuk jadi orang yang lebih effectif *pamer otot*,  yaiyalah namanya juga buku motivasi -_-. Karena di kelas baru membahas bab pertamanya saja, jadi yang akan aku share di postingan kali ini adalah habit pertama, yai...