Skip to main content

Kunci dan Seorang Anak

Siang ini panas sekali, ada dua bahan cerita yang seharusnya aku tulis kemarin dan kemarinnya lagi, rasanya malas sekali menulis di cuaca yang kurang bersahabat akhir-akhir ini.  Tapi di siang hari yang terik, diatas kasur ku yang sudah tidak empuk lagi,  dengan berbaring dan menggengam smartphone aku paksakan untuk menulis,  semangat nulis Nda,  semangat berbagi wkwk

Kemarin kunci kamar ku hilang (lagi) perkara ini sudah sangat biasa terjadi,  entahlah kenapa aku sering sekali kehilangan kunci atau meninggalkan kunci di tempat yang bahkan aku nggak inget.  Jadilah hari kemarin aku tidak terlalu mencak-mencak karena masalah kehilangan kunci bukan hal yang tabu lagi bagiku wkwk. 

Pukul 10 aku sudah free karna anak-anak hanya ujian satu mata pelajaran,  seharusnya aku bisa mengerjakan tugas di kamar dan rapih-rapih baju yang tadi pagi diantar laundry. Tapi karena aku sama sekali nggak inget meninggalkan kunci dimana jadilah aku cuma bisa tidur-tiduran di kamar teman.

Setalah dzuhur, aku mulai gerah dan nggak betah karena belum ganti seragam juga.  Akhirnya dengan perasaan yang amat malas,  aku menelusuri ulang tempat-tempat yang tadi pagi ku lewati,  tetap saja aku tidak menemukan kunci dengan 3 gantungan yang seharusnya susah hilang dan mudah di temukan itu.

Awalnya aku ke kamar ka mimin,  disana pun tidak ada. kedua, aku ke kantor mts ternyata tutup,  aku yakin kunci ku ada disana karena sepanjang waktu pagi tadi aku diam disana. Tapi aku masih penasaran dengan satu tempat yang aku diami sebentar untuk mendata anak-anak yang tidak ikut ujian,  yaitu kelas BRI.

kelas BRI tidak terlalu ramai,  sepertinya anak-anak tidak ada kegiatan les ataupun eskul hari itu. Aku menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke kelas atas.  Ku lihat ada satu anak sedang duduk di salah satu anak tangga,  ia merunduk dengan seragam lengkap dan buku-buku persiapan UN yang dipeluk dengan erat diatas pangkuannya.  Aku memanggilnya,  aku kenal percis anak itu. 

Sebut saja namanya ani,  dia adalah anak yang kurang disenangi teman-temannya.  Awalnya aku tidak paham mengapa teman sekelasnya tidak ada yang menemaninya.  Sebelumnya akan ku jelaskan dulu ani itu murid yang seperti apa.  Dia anak kelas 3 atau setara dengan kelas 9 yang biasa disebut di sekolah smp pada umumnya.  Dia murid yang jarang berbicara, kalaupun berbicara pelafalannya sulit dicerna,  ia duduk di belakang, terkadang tidak rapi (sering kali ku tegur karena tidak mengenakan kaos kaki dan kerudungnya berantakan), kurang bersosialisasi,  sering sekali ke kamar mandi.  Kenapa aku bilang sering,  hampir setiap mata pelajaran ku,  Ketika aku sudah masuk,  5 menit kemudian dia datang dan bilang habis dari kamar mandi.  Biasanya aku hukum dia dengan berdiri sebentar atau mengulang-ulang kosakata yang pernah aku beri.

Untuk anak seusianya bahasa inggrisnya sudah Bagus,  meskipun aku sulit sekali membaca tulisannya.  Di kelas dia termasuk anak yang sering ku tegur karena jarang mencatat,  tidak bawa kamus atau LKS. setiap kali aku bilang ke teman lainnya untuk berbagi buku terlihat semuanya enggan,  sampai aku harus menyebut salah satu nama di kelas itu barulah ia mau berbagi dengan raut wajah terpaksa.

Aku pernah memanggil ani,  aku berbicara dengan nya 4 mata.  Aku memuji kemampuan bahasa inggrisnya,  aku bilang bahwa nilai bukanlah segalanya. Proses belajar itulah nilai yang sebenarnya.  Mungkin dia malas menulis atau menyepelakan tidak membawa buku atau kamus karena merasa kemampuan bahasa inggrisnya sudah bagus. aku hanya mencoba memahami apa yang dia inginkan,  padahal aku sudah "greget" sekali dengan sikapnya yang belum berubah juga,  belum lagi di kelas sering kali dia bertengkar dengan temannya,  entah itu untuk masalah sepele seperti meminjam pulpen dengan memaksa atau dibangunkan temannya lalu ia marah-marah.

Aku mengajar seminggu 3 kali di kelasnya,  jadi aku sangat mengenal anak-anak kelas tersebut dengan baik. Ani memang memiliki setengah kulit wajah yang seperti habis terbakar, awalnya ku pikir mungkin salah satu yang membuat dia kurang bersosialisasi adalah itu, namun teman-temannya tidak satupun ada yang membahas dan mencelanya,  yang ku pahami teman-temannya tidak suka dengan sikapnya yang judes dan tidak mau dengar omongan jika di tegur. Di kelasnya aku sering sekali menceritakan tentang persahabatan,  tentang kekompakan,  tentang solidaritas,  dan menanamkan kalimat "just be nice to ur friend" niat ku adalah agar anak-anak di kelas itu bisa bersahabat dengan ani,  begitu pun ani bisa berbaur dengan yang lain. Meskipun aku sering jengkel dengannya,  tapi ku fikir dia hanya butuh perhatian. Maka sering kali aku menanyakan hal-hal sepele kepadanya di kelas.

Siang itu,  ternyata ani belum sama sekali ke kamar. Padahal jam sudah menunjukan pukul 13.30, sedangkan bubar ujian tadi pukul 10 pagi.  Bayangkan berapa jam dia duduk disana? Ku lihat wajahnya pucat sekali,  bibirnya kering. Jari-jarinya gemetaran, aku tanya sedang apa, dia diam saja. Aku bilang apa dia sakit,  dia mengangguk,  aku tanya apa kuat jalan, dia menggeleng. Saat itu aku terenyuh dan merasa iba sekali,  tidak ada kah teman-temannya yang peduli?  Atau tidak kah dia bilang kepada teman-temannya bahwa dia sudah sangat payah untuk berjalan. Aku langsung memanggil 3 orang anak untuk membawanya ke klinik, kebetulan mereka satu angkatan. Sebelumnya aku menyampaikan padanya untuk berbaur dengan teman-teman dan jangan gengsi. Manusia itu makhluk yang saling membutuhkan kata ku.  Aku juga bilang ke teman-temannya untuk peka terhadap keadaan sekitar,  untuk inisiatif jika melihat yang sakit. Ternyata teman-temannya tidak tahu kalau dia sakit.

Siang itu rasanya aku bersyukur sekali kunci ku hilang. Mungkin kalau aku tidak mencarinya ke kelas BRI, aku tidak tau lagi bagaimana keadaan anak itu dan sampai kapan dia duduk tak berdaya menahan kesakitannya sendirian diantara anak-anak tangga.

Comments

Popular posts from this blog

04 Mei 2013

Jarum jam terus berputar. Bola mataku tak hentinya melirik kearah jam dinding dan hp yang kupegang. Aku menunggu sms dari mamah. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak “My Father”. Percakapan panjang di mulai. Lagi-lagi bapak menyinggung masalah beasiswa itu. “bapak udah bantu doa, kamu tinggal usaha ya nak” Bibir ku kelu, aku benar-benar mengabaikan beasiswa itu, bahkan belajarpun tidak. Aku sibuk mengetik dan mengetik. Pagi tadi aku menyampaikan keinginanku pada mamah dalam sebuah pesan singkat, yang setelah kubaca lagi, lebih terlihat seperti memaksa dari pada memohon :-(. Aku ingin membeli laptop atau notebook, tapi uangku belum mencukupi. Sedangkan aku sangat membutuhkannya bulan ini, setelah diberitahu ust falah bahwa dateline bukunya diusahakan akhir buan mei ini. maka aku menyampaikan hal itu pada mamah, awalnya mamah sedikit tidak setuju dengan permintaan ku yang mendadak itu, kata mamah lebih baik uangnya untuk daftar kuliah dulu. tapi aku keras kepala, aku meyakini ma...

SABAR

Bukan kah sabar adalah kata yang paling sering kau ucap? Tapi aku tidak mengerti "sabar" yang kau maksud di pesan terakhir itu. entah "sabar" untuk menunggu, atau "sabar" akan kenyataan yang ada, entahlah... Pastinya kau adalah orang yang paling handal dalam menegakan diri! Terimakasih karena telah datang, pergi, dan kembali. Seterusnya terserah kau saja... Karena aku tengah menyibukkan diri!

Melinda wanita Perkasa banget pake Zzzz (-.-)9 *pamer otot*

Random banget mau nulis apa, kebetulan bulan –bulan ini banyak kegiatan. Sekarang bukan lagi menjalani hari tapi berlari mengejar waktu yang terasa begitu cepat. Sudah mulai PSB lagi, mulai cari beasiwa dan kuliah, berkutat dengan tulisan.   April sukses membuatku menangis berulang kali. Mulai dari nyasar cari univ persada, sendirian di Jakarta timur dengan tas besar yang di tenteng, maklum baru pulang dari Palembang. Seharian itu hati serasa dikuasai sama setan, menggerutu tak karuan. Belum lagi beberapa berkas tertinggal di pesantren, lengkap sudah penderitaan ku. Sampai pondok dihadapi dengan masalah anak-anak, mulai mengejar pelajaran yang beberapa hari aku tinggalkan. Besoknya pergi ke UT, masih sama, tidak tau jalan. Rasanya mau berteriak dan menangis. Tapi aku selalu yakin dengan mengatakan   (Melinda wanita perkasa banget pake Zzz *sambil pamer otot) jadi jalan aja walau gak tau jalan, bertanya kesekitar pedagang atau tukang ojeg yang ada. Miris, seorang gadis menyusur...