Bagaimana aku menemukan kata,
Sedangkan kebisuan menghampiri ranjangku tiap malam.
Masuk melalui celah-celah selimut yang telah usang, yang dibiarkan pemiliknya memeluk kesepian yang haus akan pertemuan.
Aku tidak menemukan kata-kata, selain benda-benda berdebu yang tinggal dan daun-daun yang tanggal dari ranting pohon di depan kamar.
Setiap hari, tanpa ada pemandangan baru.
Seperti seseorang yang duduk di atas bangku panjang berwarna gelap,
yang memiliki sepasang mata kecil dan langkah-langkah kaki yang besar. Seakan-akan ia bisa menghentikan waktu, karena kata-kata kemudian bertautan dalam pikiran.
Ku harap kita bisa kembali bertemu,
Agar ku temukan lagi kata untuk puisiku.
pengalaman lagi, tapi pengalaman ini yang paling absurd, mungkin (--,"). mulai dari partner kerjanya dan acara-acaranya. untuk jadi pembimbing itu memang nggak mudah dan nggak susah juga. awalnya aku selalu berfikir akan ada pembatas ketika kita menjadi seorang pembimbing dengan anak-anak buahnya (bingung apa sebutan yang pantas untuk mereka :D). beberapa acara yang pernah aku tangani itu rasanya nggak enak banget terlalu jelas pembatas-pembatas itu yang malah membuat komunikasi kita kurang. tapi diacara ini kyak nggak ada batas-batasan antara aku dan anak-anak itu. berkecimpung di kepanitian ini benar-benar yang paling seru, walaupun ada beberapa masalah. mungkin ini adalah acara yang paling seru ke-2 setelah acara member show waktu aku masih kelas 5, haha udah lama banget. ada rateh dan viena yang rame banget, ada anak-anak perpus yang bawel, anak-anak art yang kreatif, dan anak-anak bagol yang konyol. "porseni milad" ini termasuk salah satu acara besar di pondok. ...
Comments
Post a Comment