Bagaimana aku menemukan kata,
Sedangkan kebisuan menghampiri ranjangku tiap malam.
Masuk melalui celah-celah selimut yang telah usang, yang dibiarkan pemiliknya memeluk kesepian yang haus akan pertemuan.
Aku tidak menemukan kata-kata, selain benda-benda berdebu yang tinggal dan daun-daun yang tanggal dari ranting pohon di depan kamar.
Setiap hari, tanpa ada pemandangan baru.
Seperti seseorang yang duduk di atas bangku panjang berwarna gelap,
yang memiliki sepasang mata kecil dan langkah-langkah kaki yang besar. Seakan-akan ia bisa menghentikan waktu, karena kata-kata kemudian bertautan dalam pikiran.
Ku harap kita bisa kembali bertemu,
Agar ku temukan lagi kata untuk puisiku.
Sedikit cerita tentang hari dimana bibirku terus membentuk simpul, tersenyum sumringah. Sebelumnya, udo hanya bilang akan silaturahmi ke rumah dengan keluarganya. Kebetulan ia sudah tidak ditugaskan di Makassar dan sedang ada diklat di Bogor selama 3 minggu. Di pertengahan diklat, di minggu kedua, udo dan keluarganya menyempatkan diri datang ke rumah ku (di Tangerang). Udo memang lah laki-laki yang sangat sigap. Aku tidak mempersiapkan banyak hal untuk hari itu, seperti pakaian pada umumnya yang selalu menjadi perhatian gadis seumuranku ketika akan datang seorang laki-laki ke rumah dengan keluarganya. Aku hanya memilih baju yang sudah lama sekali tidak pernah aku pakai dan mencocokannya dengan kerudung yang ada, lalu ku poleskan sedikit pelembab dan bedak di wajah, ku pikir ini hanya acara "silaturahmi keluarga". Kalau saja aku tahu hari itu adalah hari yang sangat sakral bagiku, akan ku kenakan pakaian terbaikkkk (melinda memang dodol -_-) Ternyata Alla...
Comments
Post a Comment