Di antara kantuk dan sepertiga malam
Di antara waktu adzan dan iqomah
Di antara sujud dan tahiyat akhir
Di antara senja di waktu mustajab
Di antara berkahnya rintik dan derasnya hujan
Di antara ayat-ayat suci yang ku lantunkan
Di antara kerongkongan yang kering dan doa berbuka
Di antara itu aku menengadahkan tangan
Mengirimkan surat terindah, obat untuk segala rintihan kesabaran
Angin menerpa dan membawanya menuju langit timur tempat kau berada
Dapatkah kau rasakan?
Sayup-sayup ku sebut namamu lirih melebihi kebisuan
Padahal hati meneriaki kesengsaraan akan kerinduan
Dapatkah kau merasakannya?
Jarum jam terus berputar. Bola mataku tak hentinya melirik kearah jam dinding dan hp yang kupegang. Aku menunggu sms dari mamah. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak “My Father”. Percakapan panjang di mulai. Lagi-lagi bapak menyinggung masalah beasiswa itu. “bapak udah bantu doa, kamu tinggal usaha ya nak” Bibir ku kelu, aku benar-benar mengabaikan beasiswa itu, bahkan belajarpun tidak. Aku sibuk mengetik dan mengetik. Pagi tadi aku menyampaikan keinginanku pada mamah dalam sebuah pesan singkat, yang setelah kubaca lagi, lebih terlihat seperti memaksa dari pada memohon :-(. Aku ingin membeli laptop atau notebook, tapi uangku belum mencukupi. Sedangkan aku sangat membutuhkannya bulan ini, setelah diberitahu ust falah bahwa dateline bukunya diusahakan akhir buan mei ini. maka aku menyampaikan hal itu pada mamah, awalnya mamah sedikit tidak setuju dengan permintaan ku yang mendadak itu, kata mamah lebih baik uangnya untuk daftar kuliah dulu. tapi aku keras kepala, aku meyakini ma...
Comments
Post a Comment