Di antara kantuk dan sepertiga malam
Di antara waktu adzan dan iqomah
Di antara sujud dan tahiyat akhir
Di antara senja di waktu mustajab
Di antara berkahnya rintik dan derasnya hujan
Di antara ayat-ayat suci yang ku lantunkan
Di antara kerongkongan yang kering dan doa berbuka
Di antara itu aku menengadahkan tangan
Mengirimkan surat terindah, obat untuk segala rintihan kesabaran
Angin menerpa dan membawanya menuju langit timur tempat kau berada
Dapatkah kau rasakan?
Sayup-sayup ku sebut namamu lirih melebihi kebisuan
Padahal hati meneriaki kesengsaraan akan kerinduan
Dapatkah kau merasakannya?
Sedikit cerita tentang hari dimana bibirku terus membentuk simpul, tersenyum sumringah. Sebelumnya, udo hanya bilang akan silaturahmi ke rumah dengan keluarganya. Kebetulan ia sudah tidak ditugaskan di Makassar dan sedang ada diklat di Bogor selama 3 minggu. Di pertengahan diklat, di minggu kedua, udo dan keluarganya menyempatkan diri datang ke rumah ku (di Tangerang). Udo memang lah laki-laki yang sangat sigap. Aku tidak mempersiapkan banyak hal untuk hari itu, seperti pakaian pada umumnya yang selalu menjadi perhatian gadis seumuranku ketika akan datang seorang laki-laki ke rumah dengan keluarganya. Aku hanya memilih baju yang sudah lama sekali tidak pernah aku pakai dan mencocokannya dengan kerudung yang ada, lalu ku poleskan sedikit pelembab dan bedak di wajah, ku pikir ini hanya acara "silaturahmi keluarga". Kalau saja aku tahu hari itu adalah hari yang sangat sakral bagiku, akan ku kenakan pakaian terbaikkkk (melinda memang dodol -_-) Ternyata Alla...
Comments
Post a Comment