Di antara kantuk dan sepertiga malam
Di antara waktu adzan dan iqomah
Di antara sujud dan tahiyat akhir
Di antara senja di waktu mustajab
Di antara berkahnya rintik dan derasnya hujan
Di antara ayat-ayat suci yang ku lantunkan
Di antara kerongkongan yang kering dan doa berbuka
Di antara itu aku menengadahkan tangan
Mengirimkan surat terindah, obat untuk segala rintihan kesabaran
Angin menerpa dan membawanya menuju langit timur tempat kau berada
Dapatkah kau rasakan?
Sayup-sayup ku sebut namamu lirih melebihi kebisuan
Padahal hati meneriaki kesengsaraan akan kerinduan
Dapatkah kau merasakannya?
Sebelumnya aku pernah bahas tulisan ini disnapgram kalo nggak salah. Tapi sayang aja kalo nggak di tulis di blog hehe. Tulisan ini disadur dari snapgram wirda mansyur yang waktu itu aku baca. Dia bahas tentang obrloan papahnya dan seorang kerabat. Aku coba tulis ulang semampuku ya... "Pada suatu siang di hari senin ada perkumpulan presiden, mentri, ulama dan petinggi-petinggi lainnya. Dipertengahan diskusi mereka, presiden sebagai tuan rumah mempersilahkan tamunya untuk mencicipi jamuannya. Ulama mengawali jamuannya dengan meminum secangkir teh, kemudian diikuti para tetamu lainnya. Tapi ada seorang mentri yang dengan sopan menolak jamuan di siang hari itu karna sedang puasa sunnah senin kamis. Lalu apa yang kamu fikirkan?" tanya ust. Yusuf mansyur ke kerabatnya "Loh koq ulamanya gak puasa sunnah?" jawab kerabatnya heran. "tamu yang berada disana pasti juga heran koq ulama nggak puasa sunnah, kalah sama mentri. Padahal n...
Comments
Post a Comment