Kau bilang kau saja yang berperan
Lantas aku, kau suruh diam
Ini cerita kita, bukan hanya kamu pun aku saja
Sabarku dalam nestapa
Kebisuanku akan gaya
hanya berputar pada lingkaran yang tak ada ujungnya
Janjimu yang dilema, membuatku menerka-nerka
Kapan giliranku berperan?
Mengisi cerita sampai aku dan kamu menjadi kita.
Sekarang aku ingin bisu saja
Menunggumu tanpa bertanya-tanya
Sebelumnya aku pernah bahas tulisan ini disnapgram kalo nggak salah. Tapi sayang aja kalo nggak di tulis di blog hehe. Tulisan ini disadur dari snapgram wirda mansyur yang waktu itu aku baca. Dia bahas tentang obrloan papahnya dan seorang kerabat. Aku coba tulis ulang semampuku ya... "Pada suatu siang di hari senin ada perkumpulan presiden, mentri, ulama dan petinggi-petinggi lainnya. Dipertengahan diskusi mereka, presiden sebagai tuan rumah mempersilahkan tamunya untuk mencicipi jamuannya. Ulama mengawali jamuannya dengan meminum secangkir teh, kemudian diikuti para tetamu lainnya. Tapi ada seorang mentri yang dengan sopan menolak jamuan di siang hari itu karna sedang puasa sunnah senin kamis. Lalu apa yang kamu fikirkan?" tanya ust. Yusuf mansyur ke kerabatnya "Loh koq ulamanya gak puasa sunnah?" jawab kerabatnya heran. "tamu yang berada disana pasti juga heran koq ulama nggak puasa sunnah, kalah sama mentri. Padahal n...
Comments
Post a Comment