Kau bilang kau saja yang berperan
Lantas aku, kau suruh diam
Ini cerita kita, bukan hanya kamu pun aku saja
Sabarku dalam nestapa
Kebisuanku akan gaya
hanya berputar pada lingkaran yang tak ada ujungnya
Janjimu yang dilema, membuatku menerka-nerka
Kapan giliranku berperan?
Mengisi cerita sampai aku dan kamu menjadi kita.
Sekarang aku ingin bisu saja
Menunggumu tanpa bertanya-tanya
Jarum jam terus berputar. Bola mataku tak hentinya melirik kearah jam dinding dan hp yang kupegang. Aku menunggu sms dari mamah. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak “My Father”. Percakapan panjang di mulai. Lagi-lagi bapak menyinggung masalah beasiswa itu. “bapak udah bantu doa, kamu tinggal usaha ya nak” Bibir ku kelu, aku benar-benar mengabaikan beasiswa itu, bahkan belajarpun tidak. Aku sibuk mengetik dan mengetik. Pagi tadi aku menyampaikan keinginanku pada mamah dalam sebuah pesan singkat, yang setelah kubaca lagi, lebih terlihat seperti memaksa dari pada memohon :-(. Aku ingin membeli laptop atau notebook, tapi uangku belum mencukupi. Sedangkan aku sangat membutuhkannya bulan ini, setelah diberitahu ust falah bahwa dateline bukunya diusahakan akhir buan mei ini. maka aku menyampaikan hal itu pada mamah, awalnya mamah sedikit tidak setuju dengan permintaan ku yang mendadak itu, kata mamah lebih baik uangnya untuk daftar kuliah dulu. tapi aku keras kepala, aku meyakini ma...
Comments
Post a Comment