Skip to main content

13 des 12




Aku paham dan peka, aku sudah menyadari sejak awal perubahan sikap mu. Hanya saja aku berpura-pura bodoh dan polos ketika kau mengungkapkan “ini itu” dengan amat rumit. Aku sengaja tak menggubrisnya dengan serius. Aku berpura-pura dan aku nyaman dengan kepura-puraan ini. I am not stupid too. Hanya saja aku tak pernah berani untuk bersikap tegas atas bertolak belakangannya perasaan ku terhadapmu, karna menurutku itu terlalu jahat. Aku pun tak ingin menarik ulur perasaan siapapun termasuk kau. Perasaan hampa ini sudah membuatku terbiasa, aku nyaman dengan kekosongan ini. Kau tak perlu menjadi setitik tinta di kertas kehidupanku.

Aku terlalu abstrak untuk kau pahami, fikiranku terlalu terjal untuk kau lintasi. Aku menghargai perasaan mu. Maaf atas segala sikap yang membuat mu kesal. Aku tak ingin semua ini berkelanjutan.

Terimakasih karena telah mengagumiku. tapi aku heran, apa yang bisa kau kagumi dari seorang gadis angkuh dan aneh sepertiku? Terimakasih untuk keberanianmu mengungkapkan hal rumit itu. Tapi aku tak bisa membalasnya bahkan aku berbohong kepadamu dengan berpura-pura tak mengerti maksudmu.

Aku ingin mencintai dengan caraku, entah cinta ini untuk siapa? Bahkan hati ku tak ingin berkata jujur pada siapakah perasaan ini berlabuh. Aku mencintai seseorang dengan diam tanpa terlihat dan terasa. Seperti udara yang tak terlihat dan bukan seperti hembusan angin yang terasa. Aku mencintai seseorang sendirian dan itu sudah cukup




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

04 Mei 2013

Jarum jam terus berputar. Bola mataku tak hentinya melirik kearah jam dinding dan hp yang kupegang. Aku menunggu sms dari mamah. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak “My Father”. Percakapan panjang di mulai. Lagi-lagi bapak menyinggung masalah beasiswa itu. “bapak udah bantu doa, kamu tinggal usaha ya nak” Bibir ku kelu, aku benar-benar mengabaikan beasiswa itu, bahkan belajarpun tidak. Aku sibuk mengetik dan mengetik. Pagi tadi aku menyampaikan keinginanku pada mamah dalam sebuah pesan singkat, yang setelah kubaca lagi, lebih terlihat seperti memaksa dari pada memohon :-(. Aku ingin membeli laptop atau notebook, tapi uangku belum mencukupi. Sedangkan aku sangat membutuhkannya bulan ini, setelah diberitahu ust falah bahwa dateline bukunya diusahakan akhir buan mei ini. maka aku menyampaikan hal itu pada mamah, awalnya mamah sedikit tidak setuju dengan permintaan ku yang mendadak itu, kata mamah lebih baik uangnya untuk daftar kuliah dulu. tapi aku keras kepala, aku meyakini ma...

SABAR

Bukan kah sabar adalah kata yang paling sering kau ucap? Tapi aku tidak mengerti "sabar" yang kau maksud di pesan terakhir itu. entah "sabar" untuk menunggu, atau "sabar" akan kenyataan yang ada, entahlah... Pastinya kau adalah orang yang paling handal dalam menegakan diri! Terimakasih karena telah datang, pergi, dan kembali. Seterusnya terserah kau saja... Karena aku tengah menyibukkan diri!

Melinda wanita Perkasa banget pake Zzzz (-.-)9 *pamer otot*

Random banget mau nulis apa, kebetulan bulan –bulan ini banyak kegiatan. Sekarang bukan lagi menjalani hari tapi berlari mengejar waktu yang terasa begitu cepat. Sudah mulai PSB lagi, mulai cari beasiwa dan kuliah, berkutat dengan tulisan.   April sukses membuatku menangis berulang kali. Mulai dari nyasar cari univ persada, sendirian di Jakarta timur dengan tas besar yang di tenteng, maklum baru pulang dari Palembang. Seharian itu hati serasa dikuasai sama setan, menggerutu tak karuan. Belum lagi beberapa berkas tertinggal di pesantren, lengkap sudah penderitaan ku. Sampai pondok dihadapi dengan masalah anak-anak, mulai mengejar pelajaran yang beberapa hari aku tinggalkan. Besoknya pergi ke UT, masih sama, tidak tau jalan. Rasanya mau berteriak dan menangis. Tapi aku selalu yakin dengan mengatakan   (Melinda wanita perkasa banget pake Zzz *sambil pamer otot) jadi jalan aja walau gak tau jalan, bertanya kesekitar pedagang atau tukang ojeg yang ada. Miris, seorang gadis menyusur...