Skip to main content

Keresahan seorang ibu

Siang itu aku sedang berjibaku di kantor. Udara yang panas membuat tenggorokan manja ingin diberi air, ah seperti anak kecil saja. Padahal Ini baru hari ke 10 di bulan ramadhan. Belum lagi anak-anak mengantri ingin membayar zakat. Lengkap sudah siang yang panas ini.

Ku lihat jam hitam kecil yang melingkar di tangan kananku, jarum pendeknya mendekati angka 3. Nafasku melega, sebentar lagi ashar. Anak-anak yang membayar zakat mulai berkurang satu-persatu. Aku sedikit menggeser posisi duduk dan merenggangkan tangan, ngulet memang hal yang paling indah ketika lelah.

Baru saja kukejapkan mata sebentar, ada seorang ibu dengan perawakan besar dan wajah yang lebar. Ia tersenyum tanpa segan dan menjulurkan tangan, aku menyalami telapak tangannya yang kasar, kurasa ia pekerja keras. ibu dengan logat khas medan ini memulai perbincangan, ternyata ia salah satu orang tua dari anak didik ku. Awal perbincangan suaranya masih menggelegar, menanyakan perihal kelakuan anaknya di kelas. Lambat laut nada bicaranya bergetar, air matanya jatuh setetes dan buru-buru di hapus.

Aku memberi sedikit waktu tanpa bicara, kubiarkan ibu itu meluapkan perasaannya. Hampir lima menit ia diam, sesekali mencoba berkata namun tak kuasa. Suaranya mulai terdengar samar, aku mencoba mendengarnya seksama. Ibu itu bercerita dengan dada naik turun, sesekali ku respon dengan anggukan dan jawaban iya.

Rasanya seperti sudah dewasa saja, ibu ini bercerita padaku dengan gamblang. Seakan aku bisa meringankan bebannya, yah walaupun hanya mendengarkan dan memberi sedikit solusi. kurasa ia akan merasa baikan, karna yang ku tau tidak semua orang yang bercerita itu meminta solusi, terkadang ia hanya ingin di dengarkan. Right?

Kau tau apa yang membuatku ingin mempostingkan ceritanya disini? Yah, keresahan seorang ibu untuk masa depan anak. Kurasa tidak semua anak tau itu. Aku dan siapapun yang membaca postingan ini, semoga kita senantiasa mendoakan kedua orang tua kita dalam setiap doa, amin.

Sebut saja tika. Perawakannya tak jauh dari ibunya, namun kulitnya terlihat lebih terang. Ia begitu periang. Satu kali pun, aku tidak pernah melihatnya menangis. Ketika tak kutemukan suaranya di kelas, relfleks aku melontarkan pertanyaan ke teman-temannya "kemana tika? Kenapa dia tidak masuk kel..?"  Belum sempat ku selesaikan pertanyaan. Ia sudah mengangkat tangannya tinggi dan tersenyum lebar "hadhirohh usth, aku disini, nggak tidur koq" suaranya menggelegar. Aku hanya geleng2.

Dibalik keceriaannya yang tak pernah habis, tika juga menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ibunya bilang "usth, tika bentah. Cuma ibu takut nggak kuat biayanya. Kaka tika 2, kuliah di ui dan satu lagi di unbraw malang" ibunya menahan tangis. "Padahal ibu sudah bilang ke kakanya, jangan kuliah dulu! Ibu mau bayaran buat tika. Kamu tahun depan aja lanjutnya. Tapi usth, anak saya nakal, dia ikut tes dan keterima di ui" tangannya mengelap air mata yg terus berjatuhan.

"Usth mana mungkin saya nggak mau mempertahankan tika di pondok untuk menuntut ilmu agama, saya kepikiran usth walaupun dari segi otak tika kemampuannya jauh dari kakak-kakaknya" lanjutnya. "Padahal dia satu-satunya anak yang mondok" nafasnya tertahan. "Tadi tika bilang, mah tika betah di pondok. Tapi kalau tahun depan mamah nggak kuat biayanya, gpp deh" nafasnya tersengal. Aku bisa membayangkan mimik ceria tika ketika berbicara, hatiku seperti ditampar. "Insya Allah usth, doakan usth, saya pertahankan tika di pondok. Saya harus mengedepankan yang menuntut ilmu agama" tatapannya meyakinkan.

Aku tersenyum, tak banyak komentar. "Insya Allah bu, kalau untuk biaya anak mondok rizki nggak akan kemana. Yang penting doa, usaha dan yakin" kataku mengomentari. Ibu itu bangun dari duduknya, membetulkan lekuk bajunya. ia tersenyum lebar, senyum yang sangat familiar di mataku. Senyuman tika diwarisi dari ibunya. Ia menyalamiku lagi dan mengatakan terimakasih berulang-ulang. Pamit dan meninggalkan hatiku yang masih terenyuh.

Comments

Popular posts from this blog

Perpus Undercover

Kali ini tentang anak-anak perpus yang ceria, ini bukan berlebihan. Tapi mereka memang anak-anak dengan stok senyuman yang tak akan pernah habis. Ya bagian perpus yang sekarang aku tangani mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, setiap kali kumpul dengan lizard aku jadi ingat teman-teman slytherin. Dhiya yang cerewet persis madinah, vina yang rempong tapi punya pemikiran cemerlang seperti ka pencot, widad yang pendiam seperti eha, zami yang berlebihan seperti suci, irma yang tomboy seperti itong, kholil yang kalem enggak tau kyak siapa :D, PD yang lola tapi pinter dan si malu-malu kucing vamia. Aku merasa di dengar ketika berkumpul dengan mereka, sapaan polos mereka, teriakan aneh mereka, obrolan yang panjang terasa sebentar. mereka menanyakan apapun, mereka sangat aktif berbincang, namun kadang seperti anak-anak yang sedang mendengarkan dongeng. Mereka memang tidak bisa di bilang anak yang rajin. Walaupun harus disuruh, namun mereka adalah anak-anak yang patuh. Setiap kump...

It's okay

Postingan ini ditulis karena melihat kumpulan yang mungkin sengaja tidak mengundang saya.  Guess why? Because i am not that kind of a "nice person" menurut mereka. i guess sih gitu, correct me if i am wrong hahaha.  But lemme tell you something guys. Sebagai penegak peraturan di pondok,  sebagai pembimbing dan sebagai guru,  It's okay kalo ada anak-anak yang bilang aku galak, cerewet, dan gak asik (banyak peraturan). Because i know exactly that i am highly tempered,  i know that i get annoyed easly ketika ngeliat anak-anak yang nggak mentaati peraturan apalagi kalo berulang kali dilakuinnya. Aku bukan tipe orang yang bisa cuek-cuek aja kalo lihat ada hal salah ataupun "gak beres" di depan mata. Aku bukan tipe orang yang "bodo amat" cuma karena capek negor anak yang salah. I am not that kind of person. Meski hal demikian jadi bumerang dan ngebuat anak-anak "nggak nyaman" sama aku,  it's okay.  I through that moment since pengabdian pert...

Face it like...? (^.^)9

pengalaman lagi, tapi pengalaman ini yang paling absurd, mungkin (--,"). mulai dari partner kerjanya dan acara-acaranya. untuk jadi pembimbing itu memang nggak mudah dan nggak susah juga. awalnya aku selalu berfikir akan ada pembatas ketika kita menjadi seorang pembimbing dengan anak-anak buahnya (bingung apa sebutan yang pantas untuk mereka :D). beberapa acara yang pernah aku tangani itu rasanya nggak enak banget terlalu jelas pembatas-pembatas itu yang malah membuat komunikasi kita kurang. tapi diacara ini kyak nggak ada batas-batasan antara aku dan anak-anak itu. berkecimpung di kepanitian ini benar-benar yang paling seru, walaupun ada beberapa masalah. mungkin ini adalah acara yang paling seru ke-2 setelah acara member show waktu aku masih kelas 5, haha udah lama banget. ada rateh dan viena yang rame banget, ada anak-anak perpus yang bawel, anak-anak art yang kreatif, dan anak-anak bagol yang konyol. "porseni milad" ini termasuk salah satu acara besar di pondok. ...